Saya akan bercerita sedikit mengenai Tadanao Miki.
Dari namanya anda mungkin bisa menebak bahwa dia berkebangsaan Jepang. Tadanao Miki meninggal di tahun 1986 di usianya yang ke 96. Di masa mudannya Tadanao Miki adalah seorang desainer pesawat perang, yang bekerja untuk angkatan udara Jepang.
Di masa perang dunia kedua, dia adalah salah satu orang yang bertanggung jawab untuk desain sebuah pesawat dengan kode sandi “Yokosuka MXY7” atau lebih populer dengan nama “Ohka”. Pesawat ini didesain dan diproduksi untuk dikemudikan oleh sebuah squadron khusus, bernama “Jinrai Butai” yang dalam bahasa Indonesia, berarti “Dewa Petir”.
Tidak ada baling-baling untuk terbang di pesawat ini, begitu juga dengan roda untuk lepas landas atau mendarat. Itu karena memang pesawat ini tidak dirancang untuk kembali ke pangkalan. Membawa muatan bom di bagian depannya, pesawat ini dilepaskan dari sebuah pesawat induk untuk kemudian melayang dan dikendalikan seorang pilot menuju sasaran. Tujuan dari pesawat ini adalah untuk menghancurkan sasarannya dengan akurasi yang lebih tinggi dan daya hancur yang lebih besar.
Setelah Jepang kalah dari sekutu dan perang dunia II usai, pelucutan angkatan bersenjata Jepang juga berarti penghentian seluruh produksi peralatan yang dipergunakan untuk perang, termasuk diantaranya produksi pesawat perang.
Tadanao Miki yang kehilangan pekerjaan dan merasa sangat bersalah karena telah mendesain “Ohka”, bersumpah untuk tidak akan lagi membuat kendaraan yang dapat mencelakakan orang banyak. Berangkat dari pemikiran ini, dia lalu berkesimpulan bahwa satu-satunya kendaraan yang tidak dapat dipergunakan sebagai alat perang, adalah kereta api. Dia juga merasa bahwa masa depan mobilitas manusia di Jepang ada di kereta api.
Ia lalu bekerja di pusat penelitian teknologi kereta-api Jepang dan mulai berpikir untuk mendefinisi kembali perkereta-apian Jepang. Sebuah usaha yang pada akhirnya akan merubah sistem kereta api diseluruh dunia.
Pada masa itu, sekitar tahun 1940an, salah satu rute kereta paling populer di Jepang adalah jalur Osaka-Tokyo yang biasanya ditempuh dalam waktu 8-9 jam dengan kecepatan kereta sekitar 60-80km/jam. Tadanao Miki ingin memotong waktu perjalanan ini menjadi hanya 4,5 jam. Pada masa itu, pemikiran Miki ini menjadi bahan tertawaan banyak pihak karena untuk merealisasikan gagasan ini artinya sama dengan menciptakan sebuah kereta dengan kecepatan 240km/jam! Sedangkan, dengan teknologi kereta yang ada di masa itu, sebuah kereta yang berlari diatas kecepatan 80km/jam akan terlepas dari rel-nya. Sebuah teknologi baru harus diciptakan untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul akibat kereta api yang bergerak terlalu cepat.
Setelah 11 tahun meneliti, kepala pusat penelitian kereta jepang yang baru saat itu, Takeshi Shinohara, mempertemuan Miki dengan dua peneliti lain yang juga melakukan penelitian mengenai kereta api cepat: Tadashi Matsudaira dan Hajime Kawabe. Bertiga, mereka lalu mematangkan gagasan desain sebuah kereta cepat berkecepatan 200km/jam, yang dapat memotong waktu perjalanan Osaka-Tokyo menjadi hanya 3 jam.
Tadanao Miki bertanggung jawab untuk desain lokomotif dan aerodinamika dari keseluruhan bentuk fisik kereta, Tadashi Matsudaira bertanggung jawab untuk desain dari suspensi kereta dan Hajime Kawabe, bertanggung jawab untuk desain dari sistem kontrol kecepatan kereta.
Hasil riset mereka kemudian dipresentasikan dalam sebuah presentasi publik, di dalam sebuah ruangan auditorium yang dipenuhi oleh peserta yang ingin mengetahui pemikiran mereka. Gagasan mereka kemudian dapat diterima oleh perusahan kereta Jepang “Japan Rail” untuk dikembangkan lebih lanjut dan pada akhirnya diproduksi.
Pada tanggal 1 Oktober 1964, kereta cepat pertama di dunia beroperasi di Jepang, dengan nama “Shinkansen”. Kereta yang pertama beroperasi, diberi nama sandi “Hikari” yang berarti cahaya. Kecepatannya mencapai 256 km/jam, dan waktu tempuh Osaka-Tokyo menjadi 3 jam 10 menit.
Hingga hari ini ada 6 jalur utama Shinkansen dengan total panjang 2388 km, yang setiap tahunnya membawa lebih dari 350 juta penumpang.
Mendapatkan pendidikan S1 saya di Indonesia, seorang Profesor di Universitas tempat saya belajar, pernah dengan yakin mengatakan kepada kami, mahasiswanya, bahwa “tidak ada hal yang baru dibawah matahari”. Setelah mempelajari sejarah mengenai pembuatan kereta api cepat Shinkansen, saya menjadi yakin bahwa keyakinan beliau tersebut tidak akurat.
Pertanyaannya kemudian: Perlukah kita melakukan hal serupa? Maukah kita melakukan kerja panjang dan konsisten untuk mendefinisi kembali yang kita anggap perlu untuk didefinisi kembali, demi mendapatkan hasil yang lebih baik dan lebih berguna untuk kita semua? Apakah hal ini penting untuk dilakukan?
Tentu saja, pendapat mengenai “tidak ada hal yang baru di bawah matahari” ini mungkin sudah mengakar dan menebal menjadi keyakinan untuk beberapa orang. Kepada mereka, saya ucapkan selamat Tahun Baru 2015.